Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Lirik

Di dalam sebuah cinta, terdapat bahasa Yang mengalun indah, mengisi jiwa Merindukan kisah, kita berdua Yang tak pernah bisa, akan terlupa Bila rindu ini masih milikmu Ku hadirkan sebuah tanya untukmu Harus berapa lama, aku menunggumu Aku menunggumu

Membentur

Disini ternyata titik itu mungkin terjadi Idealismeku mulai membentur semuanya Memang benar sepertinya aku harus merasakannya sendiri terlebih dahulu Mungkin tempat ini bisa jadi selama-lamanya Aku tidak akan keluar melainkan membawa masuk Semua mulai memperlihatkan dirinya perlahan-lahan Singa kehidupan yang lama bersembunyi siap menerkam prajurit baru Orang tidak selamanya hidup dan aku harus menjaga mereka Menjadi ayah dan menjadi anak Menjadi sang senang dan menjadi sang sedih Menjadi lupa dan menjadi ingat Menjadi peluh dan menjadi keluh Kehidupan seperti seluruh musim

Puisi 02 : Awan

Sekarang kita bisa pergi ke awan, Tuan, menyimpan segalanya. Aku tak perlu melakukan apa yang kau suruh, meskipun aku sangat menghormatinya, dan melihat semua maksud baik itu, tapi aku ini hidup, bukan sedang mati, aku berjalan di waktu yang baru, yang kau rasa kau pun hidup di dalamnya, meskipun dengan berat hati ku katakan kau hanya  minum sedikit dari sana, Tuan. Hari ini dan seterusnya adalah milikku. Kau bisa arahkan aku kemanapun kau mau, aku akan mendengarkan, tapi aku akan tetap pergi ke awan. Bisakah aku mengejar awanku?

Wejangan

Dari pengalaman beliau, Di arena besar ini, sekuat apapun kamu,  jika aturan mainnya "begini", semua akan mencari celah. Bapak sudah melihatnya, dan beliau yakin kamu akan melihatnya  sepanjang jalan ini. Kamu akan melihat yang lurus dan yang belok. Kamu harus tetap berada di lurus, tapi kamu juga harus sadar pada "yang berbelok". We are playing chess.  Jangan sampai kamu mati konyol.

Di Sebuah Marka Lurus

Disini aku pagi ini, pagi pagi buta Di sebuah marka jalan yang lurus membalap waktu Hanya tinggal satu jalan lurus menghadap barat aku kan tiba Fajar sudah terbit di belakang  ingin mengejar hari Saat di selatan awan masih gelap Satu pojoknya menyingkap suatu rasi bintang terlihat Aku tak tahu namanya ujung atas dan bawahnya sangat kemerlap Angin menerpa lutut ku dan kaca helm ku kian tertutup dorongan angin Pagi ini bisa jadi pagi terakhirku di jogja Separuh nafasku ada di tempat ini Ku tinggalkan pada seseorang di kota ini Semoga kapan kapan aku bisa kembali kesini Bertemu dengannya

Bait 01 : Sore

Sore ku belakangan ini sehangat sang siang Waktu itu aku menatap samping pipi mu, Kau menatap garis langit, Menerka-nerka akan turun hujan atau tidak Hari itu aku yang ingin mengecup pipimu

Puisi 01 : Lampu

Lampu, cahaya.. badanku berdiri kepalaku berdetak lagu yang cukup menarik, pikirku aku sekarang sedang berada di tempat yang cukup familiar lagi-lagi lampu itu lagu ini semakin berdetak begitu asyiknya malam yang sepertinya tidak akan berhenti sedang berada di depan mataku