Postingan

Berapa

Berapa lama lagi kita menghitung Berapa lama lagi kita bertarung Bukankah ini sudah tak ada artinya lagi? Sang bernyawa yang akhirnya mati Kalau boleh, aku minta sebatang lagi agar tak lupa Perjalanan kita dan bagaimana awal kita berjumpa Membakar sisa-sisa detik di atas tumpuan kaki Berjalan berlari pulang dan pergi Kawan, jemari ini sudah menghitam Jiwaku sudah ditikam dan lebam Punggungku telah merengut dan keram Adakah boleh kita berpamitan? Untuk sebentar saja, hanya sampai surya tertelan

Lemari dan rayap di sekitarnya

 Aku buang lemari itu Ke pangkuan sampah-sampah dan sisa-sisa makanan Retaknya telah besar dan bukuku pun sudah banyak Aku berjalan kembali ke rumah dan kehilangan Sebuah foto pernah kutaruh disana Sebuah surat pernah kusembunyikan disana Kepalaku pernah kubenamkan di antara baju-baju Saat seseorang mematahkan hatiku Rayap-rayap itu telah memakan semua kenangan Tinggal aku sendiri dan sebuah ranjang berdecit

Lirik

Di dalam sebuah cinta, terdapat bahasa Yang mengalun indah, mengisi jiwa Merindukan kisah, kita berdua Yang tak pernah bisa, akan terlupa Bila rindu ini masih milikmu Ku hadirkan sebuah tanya untukmu Harus berapa lama, aku menunggumu Aku menunggumu

Membentur

Disini ternyata titik itu mungkin terjadi Idealismeku mulai membentur semuanya Memang benar sepertinya aku harus merasakannya sendiri terlebih dahulu Mungkin tempat ini bisa jadi selama-lamanya Aku tidak akan keluar melainkan membawa masuk Semua mulai memperlihatkan dirinya perlahan-lahan Singa kehidupan yang lama bersembunyi siap menerkam prajurit baru Orang tidak selamanya hidup dan aku harus menjaga mereka Menjadi ayah dan menjadi anak Menjadi sang senang dan menjadi sang sedih Menjadi lupa dan menjadi ingat Menjadi peluh dan menjadi keluh Kehidupan seperti seluruh musim

Puisi 02 : Awan

Sekarang kita bisa pergi ke awan, Tuan, menyimpan segalanya. Aku tak perlu melakukan apa yang kau suruh, meskipun aku sangat menghormatinya, dan melihat semua maksud baik itu, tapi aku ini hidup, bukan sedang mati, aku berjalan di waktu yang baru, yang kau rasa kau pun hidup di dalamnya, meskipun dengan berat hati ku katakan kau hanya  minum sedikit dari sana, Tuan. Hari ini dan seterusnya adalah milikku. Kau bisa arahkan aku kemanapun kau mau, aku akan mendengarkan, tapi aku akan tetap pergi ke awan. Bisakah aku mengejar awanku?

Wejangan

Dari pengalaman beliau, Di arena besar ini, sekuat apapun kamu,  jika aturan mainnya "begini", semua akan mencari celah. Bapak sudah melihatnya, dan beliau yakin kamu akan melihatnya  sepanjang jalan ini. Kamu akan melihat yang lurus dan yang belok. Kamu harus tetap berada di lurus, tapi kamu juga harus sadar pada "yang berbelok". We are playing chess.  Jangan sampai kamu mati konyol.

Di Sebuah Marka Lurus

Disini aku pagi ini, pagi pagi buta Di sebuah marka jalan yang lurus membalap waktu Hanya tinggal satu jalan lurus menghadap barat aku kan tiba Fajar sudah terbit di belakang  ingin mengejar hari Saat di selatan awan masih gelap Satu pojoknya menyingkap suatu rasi bintang terlihat Aku tak tahu namanya ujung atas dan bawahnya sangat kemerlap Angin menerpa lutut ku dan kaca helm ku kian tertutup dorongan angin Pagi ini bisa jadi pagi terakhirku di jogja Separuh nafasku ada di tempat ini Ku tinggalkan pada seseorang di kota ini Semoga kapan kapan aku bisa kembali kesini Bertemu dengannya